PPM (Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat) UNY Penguatan Kesiapan Pedagogis Mahasiswa Pendidikan Matematika melalui Pelatihan Perangkat Ethno-Based Learning

Pada hari Kamis, 23 Juli 2026, telah dilaksanakan kegiatan Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat (PPM) bertajuk "Penguatan Kesiapan Pedagogis Mahasiswa Pendidikan Matematika melalui Pelatihan Perangkat Ethno-Based Learning" yang diselenggarakan di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Negeri Yogyakarta mulai pukul 12.30 WIB hingga selesai. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan kompetensi mahasiswa Pendidikan Matematika sebagai calon pendidik dalam menghadapi tantangan pembelajaran yang menuntut kemampuan pedagogis, penguasaan teknologi, serta pemanfaatan budaya sebagai sumber belajar. Kegiatan menghadirkan tiga narasumber, yaitu Dr. Hongki Julie, M.Si., Prof. Dr. Rully Charitas Indra Prahmana, S.Si., M.Pd., dan Prof. Dr. Marsigit, M.A., dengan moderator Dr. Dafid Slamet Setiana, M.Pd. Rangkaian kegiatan berlangsung melalui pembukaan, penyampaian materi oleh ketiga narasumber, sesi diskusi dan tanya jawab, kemudian penutup.

Materi pertama disampaikan oleh Dr. Hongki Julie, M.Si. mengenai pentingnya kesiapan pedagogis calon guru matematika dalam menghadapi perkembangan pendidikan yang semakin kompleks. Beliau menjelaskan bahwa tantangan guru matematika saat ini bukan hanya mengajarkan konsep-konsep matematika secara benar, tetapi juga mampu menghubungkan konsep tersebut dengan pengalaman nyata peserta didik sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Guru diharapkan mampu menghilangkan stigma bahwa matematika merupakan mata pelajaran yang sulit dan jauh dari kehidupan sehari-hari melalui pembelajaran yang kontekstual, inklusif, dan responsif terhadap keberagaman peserta didik. Selain itu, dipaparkan pula pentingnya Computational Thinking (CT) sebagai alat berpikir logis dan sistematis dalam menyelesaikan masalah. Materi ini juga menekankan integrasi Etnomatematika, Computational Thinking (CT), dan Culturally Responsive Teaching (CRT) sebagai landasan pembelajaran yang mampu mengembangkan kemampuan berpikir kritis sekaligus identitas budaya.

Selain penyampaian konsep teoretis, peserta juga diperkenalkan dengan contoh implementasi perangkat Ethno-Based Learning yang memanfaatkan berbagai budaya Indonesia sebagai konteks pembelajaran matematika. Contoh yang diberikan meliputi pemanfaatan motif batik untuk mengenalkan konsep pewarnaan dan Teorema Empat Warna, motif Batik Kawung sebagai media pembelajaran geometri transformasi melalui refleksi, translasi, dan rotasi, serta tradisi Sedekah Bumi untuk mengembangkan pemahaman pola bilangan dan pemodelan matematika. Contoh-contoh tersebut menunjukkan bahwa unsur budaya dapat diintegrasikan dengan Computational Thinking dan pendekatan pedagogis yang tepat sehingga pembelajaran matematika menjadi lebih menarik, kontekstual, sekaligus mampu mengembangkan kemampuan berpikir peserta didik.

Pada sesi berikutnya, Prof. Dr. Rully Charitas Indra Prahmana, S.Si., M.Pd. memaparkan konsep Ethno Sense sebagai pendekatan baru dalam memahami bagaimana seseorang membangun makna matematika melalui budaya. Beliau menjelaskan bahwa proses tersebut berlangsung melalui tiga komponen utama, yaitu Contextual Indexing, Schema Activation and Selection, serta Valued-Informed Interpretation. Ketiga komponen tersebut saling berinteraksi secara dinamis sehingga seseorang mampu mengenali fenomena budaya, menghubungkannya dengan pengalaman yang telah dimiliki, kemudian menginterpretasikan makna matematis berdasarkan nilai-nilai budaya yang berlaku. Selanjutnya dijelaskan hubungan antara Ethno dengan Realistic Mathematics Education (RME), yaitu pembelajaran matematika yang dimulai dari permasalahan nyata yang dekat dengan kehidupan peserta didik sebelum diarahkan menuju konsep matematika formal. Dengan demikian, budaya lokal tidak hanya menjadi contoh dalam pembelajaran, tetapi juga menjadi sumber utama dalam membangun konsep-konsep matematika yang lebih bermakna dan mudah dipahami.

Selanjutnya, Prof. Dr. Marsigit, M.A. menyampaikan materi mengenai pengembangan etnomatematika sebagai salah satu paradigma dalam pendidikan matematika. Beliau menjelaskan bahwa etnomatematika perlu dipahami dari aspek ontologi, epistemologi, dan aksiologi sehingga budaya tidak hanya dipandang sebagai media pembelajaran, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan matematika. Berbagai aktivitas masyarakat, artefak budaya, maupun tradisi lokal dapat dianalisis untuk menemukan konsep-konsep matematika yang kemudian dikembangkan menjadi pembelajaran formal di sekolah. Pemateri juga menekankan pentingnya penelitian etnomatematika yang berorientasi pada pembelajaran sehingga hasil penelitian mampu memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan kualitas pembelajaran matematika. Dengan memanfaatkan artefak budaya sebagai konteks pembelajaran, guru dapat membantu peserta didik melakukan proses interpretasi, abstraksi, hingga membangun konsep matematika secara lebih mendalam dan kontekstual.

Selama kegiatan berlangsung, peserta mengikuti seluruh rangkaian acara dengan antusias. Hal tersebut terlihat dari pertanyaan yang diajukan pada sesi diskusi mengenai implementasi Ethno-Based Learning di sekolah, penerapan Ethno Sense dalam pembelajaran matematika, serta pengembangan perangkat pembelajaran yang memanfaatkan budaya lokal. Diskusi yang berlangsung tidak hanya membahas aspek teoritis, tetapi juga berbagai tantangan praktis yang mungkin dihadapi calon guru ketika menerapkan pembelajaran berbasis budaya di kelas. Interaksi yang aktif antara narasumber dan peserta menjadikan kegiatan berlangsung secara komunikatif serta memberikan ruang bagi peserta untuk memperdalam pemahaman terhadap materi yang telah disampaikan.

Melalui kegiatan ini diharapkan mahasiswa Pendidikan Matematika memperoleh wawasan yang lebih luas mengenai pentingnya kesiapan pedagogis dalam menghadapi perkembangan pendidikan modern. Integrasi Etnomatematika, Ethno Sense, Realistic Mathematics Education (RME), Computational Thinking (CT), dan Culturally Responsive Teaching (CRT) diharapkan mampu menjadi bekal bagi calon guru dalam merancang pembelajaran matematika yang lebih inovatif, kontekstual, inklusif, dan berakar pada budaya Indonesia sehingga mampu meningkatkan kualitas pembelajaran sekaligus menumbuhkan apresiasi peserta didik terhadap kekayaan budaya bangsa.